
Pagi sunyi yang dingin dikamarku sempit dan kumuh dengan berbagai macam barang yang kadang tak bermutu. Inilah usahaku untuk bercerita dan berbagi sedikit resah gelisahku. Aku hanya bisa berteriak dalam kekacauan ini, setiap kali aku bercerita dan berkomunikasi dengan Noer. Entah kenapa selalu kekacauan dan kemarahan yang aku dapatkan. Memang apa kesalahan yang essensial dan subtansi? Apa karena karma atau karena hukuman atas ketidakbisaanku pada masa lalu.
Kerutan kening setiap pagi tak bisa aku jelaskan maksud dan tujuannya. Untuk apakah dia hadir dalam kehidupanku, apa untuk bersemayam dalam raut wajah polos yang tak mampu penuh mengartikan makna cinta yang sesungguhnya. Atau karena aku tak bisa berbicara akan ketidakbisaanku tentang keadaan semuanya. Abstrak memang, aku kadang bertengkar dengan perasaan dan akalku sendiri. Menimbangpun kadang aku tak mampu, setiap langkah kegiatan bagai dimata-matain. Apakah kesalahan lalu lantas aku terima sekarang?


