Sabtu, 13 Mei 2017
Jumat, 12 Mei 2017
Cerita Awal S2 PPKn UM
Melanjutkan studi merupakan salah satu keinginan saya sejak lulus kuliah strata-1 di Universitas Negeri Malang (UM). Niat awal saya adalah untuk menambah ilmu pengetahuan dan bekal untuk memasuki dunia yang serba penuh tidakpastian untuk ke depannya. Saya berpendapat jikalau pendidikan tidak akan pernah termakan oleh zaman, berbeda dengan hal yang lainnya. Ilmu yang didapatkan bisa saya katakan sebagai investasi masa depan kelak. Terlepas nantinya saya menjadi apa, atau bagaimana nasib nantinya, saya tidak terlalu berat untuk memikirkan hal itu. Tapi yang saya hari ini yakini bahwasanya, melanjutkan kuliah merupakan salah satu ibadah yang niatnya baik karena Allah SWT. Karena alasan itulah saya berkeinginan untuk melanjutkan studi, meskipun saya paham dirasa berat dengan keuangan. Sebab orang tua, utamanya Ayah saya sudah tidak lagi seperti muda dahulu yang masih produktif dan kerja. Sekarang beliau sudah pensiun, akan tetapi niat untuk menyekolah anaknya merupakan niat beliau juga, karena hal itulah yang membuat niat bulat semakin kuat. Dan doa dorongan dari ibu yang selalu mendoakan yang terbaik bagi anak-anaknya memberikan semangat spiritual.
Awal tahun 2017 bertepatan bulan Februari, saya tidak pernah menduga keinginan yang sempat menggebu dalam batin kembali lagi, akan tetapi semangat ditahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya yang dialami setelah lepas dari kuliah Strata-1. Memang hal ini saya pikir ulang memang wajar, karena suasana kebatinan yang berbeda. Terminal atau berhenti sejenak dari hiruk pikuk pendidikan dalam menimba ilmu berdampak pada malasnya untuk kembali berpikir. Kadang saya berpikir memang benar dengan peribahasa yang berkata “keluarlah dari zona nyaman”, hal ini dimungkinkan karena terlarut dan bercampur dengan rasa malas yang saya alamin ditahun ini. Rasa semangat yang dulu memang sudah mulai surut untuk kembali melanjutkan, akan tetapi kelancaran dalam kelengkapan untuk melanjutkan studi lebih baik di tahun ini, dengan terbuktinya saya bisa melampaui syarat administratif yang dibutuhkan untuk bisa mendaftar di Universitas Negeri Malang (UM). Kalau tahun lalu tepatnya ditahun 2016, semangat saya terlalu menggebu hingga salah untuk memilih tindakan yang mana harus dipilih, lebih percaya dan terombang-ambing dengan satu pendapat orang yang berdampak pada gagalnya melanjutkan studi ditahun 2016.
Minggu, 13 Maret 2016
Rinduku pada-Mu
| silviananoerita.com |
Minggu, 28 Februari 2016
Memasak dengan Tungku
![]() |
| goreng tahu dan tempe |
Sebelum mengenal yang namanya kompor minyak dan zaman sekarang sudah banyak yang beralih dengan menggunakan kompor Gas, Tungku merupakan nenek buyut dari semua teknologi hasil manusia tersebut. Bisa dibilang, sebelum ada mereka berdua (Kompor Gas dan Kompor Minyak) fakta sejarah membuktikan bahwa tungku sudah lebih dulu adanya.
Sekarang, sebagian besar manusia utamanya Negara Kita Indonesia sudah beralih semua ke yang namanya kompor Gas dengan kapasitas tiga kilogram. Sedangkan harga yang dibandrol kisarannya tujuh belas ribu rupiah setiap tabung gas tiga kilogram. Keluarga saya dirumah menggunakan semua teknologi manusia, mulai dari tungku kompor minyak dan kompor gas. Semuanya ada dan tersedia, akan tetapi yang paling jarang digunakan yakni kompor minyak tanah. Alasan mendasarnya mungkin sudah jelas, yakni harga minyak tanah yang selangit dan sedikit langka.
Langganan:
Postingan (Atom)



