Rabu, 16 Juli 2014

Keterampilan Dasar Mengagajar



KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI
1. Variasi adalah berbagai perubahan dalam proses kegiatan pemeblajaran dengan bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa, mengurangi kejenuhan dan kebosanan, mengingkatkan partisipasi belajar, serta meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Variasi yang dilakukan furu hendaknya sesuai dengan kondisi kelas, lancar, dan logis sehingga tidak menganggu alur pembelajaran yang sedang berlangsung
Setiap vasriasi harus mempunyai tujuan sasaran yang jelas.

BENTUK
11. Variasi dalam gaya mengajar
22. Variasi dalam penggunaan media dan bahan ajar
33. Variasi dalam pola interaksi dan kegiatan belajar

VARIASI DALAM GAYA MENGAJAR
11. Suara rendah, tinggi, besar, kecil dan sebagainnya
22. Memusatkan perhatian
33. Membuat kesenyapaan sejenak
44. Mengadakan kontak pandang
55. Variasi gerakan badan dan mimik, dan
66. Mengubah posisi, misalnya dari depan kelas ke tengah atau kebelakang kelas
77. Mengubah dai duduk berdiri
88.  Mengubah pola tulisan di papan tulis

VARIASI DALAM PENGGUNAAN MEDIA DAN BAHAN AJAR
11. Variasi alat media dan bahan ajar yang bisa dilhat
22. Variasi alat, media dan bahan ajar yang dapat di dengar
33. Variasi alat, media dan bahan ajar yang bisa di lhat dan didengar
44. Variasi alat, media dan bahan ajar yang dapat diraba dan dimanipulasi

VARIASI DALAM POLA INTERAKSI DAN KEGIATAN BELAJAR
11. Pola interakasi dapat berbentuk klasikal, kelompok, dan perorangan sesuai dengan keperluan
22. Variasi kegiatan dapat berupa mendengarkan informasi, menelaah materi, diskusi, latihan atau demontrasi
33. Variasi dalam kegiatan hasil belajar, tertulis lisan, untuk kerja, sikap dan sebagainya

KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN
1. Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut
2. Penguatan merupakan dorongan (motivasi) bagi siswa untuk meningkatkan kinerja belajarnya
3. Dapat meningkatkan perhatian siswa
4. Wujud perhatian guru terhadap partisipasi belajar siswa

BENTUK
Verbal, berupa kata-kata, kalimat pujian, sprti bagus, tepat sekali, sip atau saya banga dan .

Selasa, 11 Desember 2012

UPAYA PELEMAHAN KPK DARI BERBAGAI PIHAK


UPAYA PELEMAHAN KPK DARI BERBAGAI PIHAK
KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) merupakan salah satu lembaga negara yang diberikan tugas dan wewang dalam kasus korupsi yang ada di Indonesia. Lembaga ini mendapatkan berbagai tekanan, yang pada awalnya di akhir tahun 2009 KPK yang tengah menyelidiki kasus Century yang melakukan penyadapan terhadap beberapa petinggi Polri. Mungkin merasa gerah, Polri malah jadi mempermasalahkan upaya penyelidikan KPK itu (majalahdetik.com edisi 37, 13-19 Agustus 2012). Permasalah lain dari Porli berkenaan mengenai perebutan penanganan kasus dugaan korupsi pengadaan alat simulator Surat Izin Mengemudi (SIM) kendaraan roda dua dan roda empat. Sehingga berujung pada konflik atau manuver politik dari Porli.
Bulan Oktober 2012 KPK pun mulai terjadi pergejolakan, tidak hanya dari Porli bahkan perang antara Polisi dan Tentara nyaris Pecah di KPK. Dari tempat kejadian banyak belasan mobil masuk gedung KPK. Dari mobil itu keluar  personel polisi berpakaian preman dan personel Densus 88 yang semuanya membawa senjata. Banyak dari mereka saat masuk menggunakan bentakan dari Porli dengan kata-kata bahwa ini adalah tugas negara saat masuk ke dalam gedung KPK yang dengan tujuan untuk membawa Kompol Novel Baswedan (majalahdetik.com edisi 46, 15-21 Oktober 2012). Konflik ini membuat lembaga yang dibuat oleh negara menjadi lemah fungsi dan wewangnya, sebab saat ada kasus korupsi Porli dan Tentara ikut didalamnya.
1
Kabar pengepungan Polri terhadap KPK dengan cepat menyebar lewat jejaring sosial. Berita ini mengundang pendukung pemberantasan korupsi untuk datang langsung ke KPK. Mereka pro KPK ingin mempertahankan penyidik KPK dari cidukan polisi (majalahdetik.com edisi 46, 15-21 Oktober 2012). Dari tindakan yang demikian manuver politik pun terjadi di kalangan Porli dan Tentara yang tujuan mereka ingin melemahkan KPK. Hingga banyak terjadi adu fisik dari dua belah pihak.
2
Konflik biasanya didefinisikan sebagai bentuk perbedaan atau pertentang-an ide, pendapat, paham dan kepentingan antara dua pihak atau lebih (Al-Hakim. 2012: 195). Kasus ini terus memanas. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang diharap bisa memberi solusi tidak juga turun tangan. Baru setelah terdesak, SBY membentuk Tim 8 yang akhirnya merekomendasikan dikelu -arkannya Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2). Apabila konflik atau manuver politik dibiarkan berlarut-larut mengakibatkan perpecahan dalam pemerintahan yang berakibat melemahnya pertahanan negara. Bahkan dari konflik ini pasti berdampak kepada masyarakat yang ada di Indonesia dengan menilai dan mengevaluasi KPK yang dilemahkan tugas, fungsi dan wewenangnya.
Hingga muncul istilah cicak buaya, dan Istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh Susno Duadji, yang saat itu masih menjabat sebagai Kabareskrim Polri berpangkat Komjen. Bukan hanya dari kalangan Porli yang ingin melemahkan KPK akan tetapi ada dari lembaga militer negara Indonesia yang juga berpengaruh untuk melemahkan KPK. Hingga datangnya RUU (Rancangan Undang-Undang) mengenai KPK yang isi secara subtansi melemahkan KPK, dengan demikian manuver politik nampak dalam DPR RI sehingga agenda terselubung dari DPR RI. Saat  KPK  menjalankan  tugas,  idealnya  KPK  mendapat  dukungan  secara  politik  dari  DPR. Revisi  UU  KPK yang merupakan agenda terselubung  secara  politik patut diwaspadai. Seharusnya DPR RI sebagai institusi politik yang mewakili rakyat harus memberikan dukungan politik kepada  KPK agar KPK  mampu menjadi lembaga mandiri, independen, berwibawa untuk memberantas korupsi.
            Hal ini pun pasti akan berdampak pada pada negara dan masyarakat yang ada di Indonesia. Dan apabila lembaga seperti KPK ini peranan, tugas dan wewenangnya semakin dikurangi akan manjadikan korupsi yang ada di Indonesia akan semakin bertambah. Dan dengan adanya konflik juga antara KPK dengan Porli dan Tentara hingga terjadi kontak fisik yang menyebabkan perpecahan dalam  pemerintahan dan akan melemahkan pertahanan negara juga jika konflik ini berkelanjutan terus.
            Fenomena yang ada diatas penulis tertarik untuk mengkaji mengenai siapakah pihak yang ingin melemahkan fungsi, peranan dan tugas KPK dari tersebut, dan tujuan apa yang di inginkan oleh oleh pihak yang kontra terhadap tugas dan keweangan KPK ini. Dan hal yang demikian pasti akan berdampak pada negara Indonesia dan Masyarakat yang Indonesia. Manuver politik dari Porli dan Tentara yang berkonflik dengan KPK akan berkaibat pelemahan ketahanan negara, yang seharusnya mereka sebagai HANKAM malah berkonflik dan bermanuver dengan lembaga-lembaga yang ada di negara Indonesia.

Jumat, 27 Juli 2012

MK Tolak Hapus Hukuman Mati


mahkamah Konstitusi (MK) menolak menghapus hukuman mati. Ini terungkap dalam putusan MK terkait uji materi terhadap pasal 365 ayat 4 KUHP yang diajukan Raja Syahrial dan Raja Fadli, terpi-dana mati di PT Riau. Keduanya  mendalilkan hu-kuman mati bertentangan dengan hak hidup yang dijamin pasal 28 UUD 1945. Dalam putusannya, Rabu 18 Juli, MK menegaskan hukuman mati ti-dak bertentangan dengan UUD 1945. Sementara pencurian dengan kekerasan yang menyebabkan kematian sebagaimana yang didakwakan pada pemohon, dinilai masuk most serious crime kare -na menimbulkan ketakutan yang luar biasa pada masyarakat.

Kamis, 12 Juli 2012

Politik Idaman ; Sebuah Mimpi Masyarakat

   
    Banyak sebagian dari kalangan masyarakat yang belum memahami dan mengerti mengenai apa sebenarnya politik itu. Dan kecenderungan dari mereka yang mengerti politik hanya sebatas pada perebutan kekuasaan baik dalam negara, organisasi dan rana perguruan tinggi yang dengan cara mereka lakukan. Politik sendiri akan menjadi baik dan indah bila pelaku dari politik ini benar-benar sadar dan paham apa Hakikat dari politik itu. Bagi orang yang awam memahami politik maka mereka beranggapan bahwa politik selalu kotor, dan banyak sekali dilakukan oleh sebagian kepentingan dari elit dari Partai politik. Tragisnya lagi pada era globalisasi-modernisasi ini semakin banyak sekali yang melakukan perilaku politik yang dengan menggunakan paham Nepotisme yang pada kaum pemilik kekuasaan sebelumnya menginginkan agar salah satu dari kerabat dekatnya menginginkan untuk memegang kekuasaan. Masih kah ada yang demikian di negara ini?

     Dengan adanya politik pasti kita tahu dengan apa yang namanya partai politik yang memiliki bermacam-macam AD/ART yang pada masing-masing partai politik ini banyak sekali memiliki Tujuan dalam menjalankan partai politiknya ini, hanya saja mereka yang mendirikan partai politik. Ini yang menjadi ironis bagi masyarakat yang sama sekali tidak memahami perkembangan perpolitikan di negara tercinta ini, yang hanya saja mementingkan elit tertentu. Berpikir mengenai ke-idealan dan menjadi idaman bagi semua kalangan akan menjadi susah, karena saat manusia melakukan politik maka tidak sedikit dari mereka yang ingin merusak dan menggunakan sebagai kepentingan nya sendiri. Mendirikan partai politik pasti memiliki Pro (para pendukung) dan Kontra (para penentang), keduanya sama-sama berjalanan selaras, karena tidak mungkin bisa dipungkiri pasti saat mereka mendirikan partai politik jelas tidak sedikit bagi mereka yang memiliki menentang akan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga yang mereka miliki saat itu. Dengan adanya Politik pasti didalamnya memiliki tujuan nya masing-masing dalam mengidam-idamkan yang ideal.

    Politik idaman mungkin hanya bisa menjadi mimpi bagi kaum-kaum polentar (miskin) yang di harapakan kesubyektifitasnya dalam memenuhi keadilan sosial. Dan banyak dari mereka yang mendambakan politik idaman, akan tetapi belum dapat menjalankan saja pada realitas yang ada, dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang bertolak belakang dangan apa yang semula para partai politik tujukan. Jangan salahkan kita yang nantinya akan memahami politik akan bersikap apatis dan tidak mau untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi saat kejujuran tidak pernah dimiliki, ke-Univesal-an masih belum di ketahui, kebebasan belum dapat diciptakan, keadilan belum dapat didambakan, ketidak rahasiaan masih jauh terpanggang lautan dalam. Demokrasi adalah sistem terbaik dari yang terburuk.

     Keidaman politik mungkin saja hanya fiktif belaka selama para pelaku politik tidak sadar. Nina Bobok Politik? Mimpi Politik? :'(



                                                                                                                           Probolinggo, 12 July 2012

Selasa, 10 Juli 2012

PEMBELAJARAN KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTORIK

 I. Pengertian Belajar
Definisi  belajar  berbeda-be da, menurut pendapat tradisional belajar itu ialah
menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Di sini dipentingkan pendidikan
untelektual. Kepada peserta didik diberikan bermacam- macam mata pelajaran untk
menambah pengetahuan yang harus dimilikinya, terutama dengan jalan menghafal.
Pendapat yang lebih modern ialah yang menganggap belajar sebagai  a change in
behavior  atau perubahan perilaku. Implikasi dari pengertian belajar ini  terhadap pendidik
ialah:
a)   harus menentukan prilaku apakah yang  diharapkan bagi peserta didik.
b)   harus mengetahui hingga manakah taraf perkembangan prilaku peserta didik,
c)   harus menyediakan kesempatan dan syarat-syarat yang sebaik-baiknya yang menurut
harapannya akan menghasilkan  prilaku yang diinginkan.

II. Tujuan Belajar.
Tujuan pembelajaran dibedakan atas beberapa kategori, sesuai dengan perilaku yang
menjadi sasarannya. Gage dan Briggs mengemukakan lima kategori, yaitu “ intelectual
skill, cognitive strategies, verbal information, mo tor skill dan attitude”  (1974, h. 23-24).
Bloom mengemukakan tiga kategori sesuai  dengan domain-domain perilaku individu
yaitu kognitif, afektif dan psikomotor . Domain kognitif  berkenaan dengan
perkembanganm kecakapan dan keterampilan intelektual. Afektif  berkenaan berkenaan
  2
dengan perubahan minat, sikap, nilai-nila i, perkembangan apresiasi dan kemampuan
menyesuaikan diri. Domain psikomotor berkenaan dengan keterampilan-keterampilan
gerak.
           Tujuan instruksional juga memiliki tingkat kesukaran yang berbeda. Bloom (1975)
membagi domain kognitif atas enam tingkatan yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis dan evaluasi. Untuk domain afektif Krethwohl etr al (1974) membaginya
atas lima tingkatan yakni: penerimaan, per tisipasi/merespons, penilaian, mengorganisasi
nilai dan pembentukan pola/karakterisasi nilai-nilai. Domain psikomotor Harrow (1971)
membaginya atas enam tingkatan yakni: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan
terbiasa, gerakan kompleks, penyesu aian pola gerak dan kreativitas.
           Tujuan instruksional merupa kan suatu tingkah laku yang diperlihatkan mahasiswa
pada akhir suatu kegiatan belajar. Perumu san tujuan instruksional yang baik memiliki
beberapa spesifikasi yakni:
•   Menggambarkan apa yang diharapkan dapat dilakukan oleh mahasiswa, tingkah laku
yang dapat diamati/terukur.
•   Menggambarkan kondisi atau lingkungan ya ng menunjang terbentuknya tingkah laku
itu (lingkungan fisik. psikologis).
•   Menunjukkan mutu tingkah laku yang diharapkan ( ketepatan/ketelitian,kecepatan,
panjangnya dan frekuensi respon).
           Kata-kata  kerja  operasional  yang dapat digunakan dalam merumuskan tujuan
instruksional diantaranya adalah:
Ranah Kognitif
1. Pengetahuan: menyebutkan, menunjukkan, menyatakan, menyusun daftar dsb.
  3
2. Pemahaman : menjelaskan, menguraika n, merumuskan, menerangkan, menyadur dsb.
3. Penerapan    : mendemonstrasik an, menghitung, menghubungkan, membuktikan, dsb.
4. Analisis        :memisahkan, mmemilih, membandingkan, memperkirakan dsb.
5. Evaluasi        : menyimpulkan, mengkri tisi, menafsirkan, memberi argumentasi, dsb
6. Kreasi           : mengkombinasikan, mengarang, menciptakan, mendisain, mengatur dsb
Ranah Afektif 
1.   Penerimaan  : menanyakan, memilih, mengikuti, menjawab, melanjutkan, dsb
2.   Partisipasi    : melaksanakan, membantu, menawarkan diri, menyambut, dsb
3.   Penilaian      : melaksanakan, mengambil prakarsa, mengusulkan, membela dsb.
4.   Organisasi    : berpegang pada, meng integrasikan, mengubah, mempertahankan  dsb
5.   Pembentukan Pola : bertindak, menyatakan, memperlihatkan, mempersoalkan dsb
Ranah Psikomotor
1. Persepsi          : membedakan, menunjukkan, memilih, menghubungkan dsb
2. Kesiapan (menyiapkan diri fi sik/mental)    : mengawali,  bereaksi, mempersiapkan, me-
    nanggapi,  memprakarsai, dsb.
3. Gerakan terbimbing  (meniru contoh) : mempraktikan, mengikuti, mengerjakan, mem-
     buat, mencoba, dsb.
4.   Gerakan terbiasa (berpegang pada pola): mengoperasikan, memasang,
mendemonstrasikan, mengerjakan, dsb.
5.   Gerakan kompleks (berketerampilan secara lancar,luwes,gesit): mengoperasikan,
mendemonstrasikan, mengerjakan, dsb.
Penyesuaian pola gerak berv ariasi dan kreatif : menguba h, mengadaftasikan, membuat
variasi, merancang, menciptakan, mendesain, merencanakan dsb.