Selasa, 08 Mei 2018

Ketidak-Berdayaanku

silviana, edit
Romantis, itulah istilah yang disematkan untuk mereka yang lagi dimabuk cinta. Usia pengantin yang tak lebih dari sebulan, hingga kesalahan besarpun lenyap akan tali kasih yang di saksikan ribuan malaikat Tuhan. Ibarat percintaan romeo pada juliet, yang begitu menggugah tak mampu memisahkan keduanya dari percintaan yang kekal abadi. Serupa dengan kisah percintaan romeo dan juliet, juga ada percintaan antara dewi sinta dan sri rama. Dimabuk cinta, dimabuk kasih, dimabuk segala-galanya. Melenyapkan idea dan pikiran yang jernih. Kadang norma baik ataupun burukrela untuk dilindas demi tergerakannya cinta itu.


Cinta, kasih, dan sayang sebuah candu yang melanda membutakan membuat keirasionalan akal. Dan memang begitu seharusnya, memandang mata lembutmu. Meskipun sayup mata ku yang lelah karena waktu, tapi ku terima kehendak alam itu dan kupaksakan untuk terus menerus menagumi makna terdalam dari mata bulat indah itu. Aku berusaha mengambarkan, menarasikan hal ini. Sungguh, hanyut dalam racun. Barang tentu benar ucapan pujangga yang berujar lahirnya cinta itu dari mata. Semuram apa kah cahaya yang ada dikala kemarin, akupun berusaha memandang senyup teduh kedua mata itu. Tak lekang waktu aku memandannya, lelahpun aku usaha untuk melawan, gravitasi kelopak mata yang memaksakan untuk aku memejamkan mata tak jua surut ketiak memandangmu cemberut dan abai akan firasat terdalam dari hatiku.

Renunganku pun tak cukup menjelaskan kejadian berjam-jam lamanya dalam pandangan mata, beku, kaku dan mati. Kejam, sadis, dan biadab. Tapi semua aku terima senang hati, tak ada noda penyesalan. Setetespun tak pernah ada, aku bahkan senang memandang walaupun engkau tak balas memandang, karena sejatinya aku ingin lebih dulu tahu masuk kedalam hati terdalammu. Sampai pada simpulanku pun juga belum mampu menggambarkan betapa rumitnya manusia kecintaanku yang selama ini bersemayam megah dalam jiwa. Betapa, dan betapa.

Ketidak mungkinan inikah yang harus aku terima sebagai pembalasan dari semua kata romantis, cinta dan renungan. Tak lain adalah ketidak berdayaanku untuk menangkap betapa abstrak tapi indah untuk diungkap, dirasa, bahkan kalaupun bisa mencumbui dengan lebut bahwa aku ingin hidup dan tumbuh bersamamu bagai lautan dan garam yang memadu didalamnya. Tak pisah dan tak lekang oleh hempasan angin yang menggulung menjadi ombak yang siap menghantam batu setiap harinya. Ah, semuanya jelas terang, bahwa aku tidak berdaya melewati semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar