Kamis, 31 Mei 2018

Burung Manyar

google.com; burung manyar
Pagi ini, berisik dan memang begitu setiap harinya. Ku tulis cerita pendek hanya untuk mengisi kegundahan hati dan pikiran yang selalu membayang akan masa depan. Terniang-dan menderu-deru cepat bagai kilat yang siap menyantap tanah, sebagai bentuk pertemuan kutub medan magnet negatif dan medan magnet positif. Itulah awal, yang setidaknya bisa aku ceritakan.

Penghiburku dikala sepi datang, liburan ini begitu menyiksa. Tigabulan lamanya, tanpa ada jeda sedikitpun untuk beraktifitas. Muram sunyi dalam goa, rumah penuh dan sesak dengan segala-galanya. Memang aku orang desa, sangat desa. Dan lumayan jauh dari perkotaan. Dan karena lokasi yang bepapasan ditepi jalan raya, akibatnya lahirlah sosokku yang seperti menyerupai orang kota, ya. Dimana paham individualis lebih utamakan. Jadi, kalau bukan perihal bisnis, dan kepentingan yang saling menguntungkan, tidak ada akses untuk berkomunikasi. Setidaknya itu pergeseran nilai yang aku temukan di desaku yang ku cintai. Utamanya pada diriku.


Beruntung, itulah yang aku bisa katakan. Setiap pagi mereka berduyun-duyun dan selalu menghiburku kala kemarau panjang tiba. Dengan hembusan angin selatan yang besar, mengakibatkan dedaun jatuh dan selalu berguguran tidak pada waktunya. Deburan tanah, dan pasir jalanan selalu menghujani teras depan rumah. Selaras harmoni dengan angin yang berderu kencang setiap hari. Lengkap pun sudah keindahan Tuhan Pencipta alam dan isinya. Fungsi dan tugasnya, semua sama untuk menjadikan ekosistem yang komplek dan tenangkan jiwa.

Kicauan burung-burung manyar, itulah mereka yang sebelumnya aku jelaskan. Dia hadir dalam setiap nada-nada menderu, membangunkan, membangkitkan jiwa yang sedang lelap diam tertidur. Akupun suka, tak elok kiranya aku memelihara burung lain. Karena setiap pagi mereka mengoceh, seolah berkomunikasi sesama temannya. Tak khayal mereka membangun beberapa bersangkar diatas atap rumah, dan inilah yang membuat kotor seisi rumah. Ah, tapi itu semua aku rasa tidak akan berlangsung lama. Biarkan mereka bahagia dengan kehidupannya yang lagi senang untuk berkumpul besama.

Burung-burung manyar pagi ini membuat aku teringat kenangan waktu kecil. Unggas, itulah hewan yang paling aku kagumi, kupikir dialah pesawat terbang yang unik, dan mampu melewati luasnya cakrawala angkasa. Liar dan bebas terbang hinggap dimanapun mereka suka. Tak memikirkan kemelut pribadinya, tidak sekompleks Hak dalam diri manusia. Pola tingkah mereka sederhana, lahir, makan, lalu mati. Setidaknya tiga siklus ini yang dijalani, simpel mudah dan ringan. Itu mungkin yang aku ingin-kan hari ini. Tercipta sebagai burung manyar yang liar, bebas dan tak bingung makan apa besok? Itu bukan urusan penting bagi mereka, si burung pemakan biji.

Simpulanku merekam, kalau aku mampu memilih takdir hidup ini. Boleh kucoba untuk hidup dan menjadi burung manyar. Ingin sekali aku mengitari langit bebas dan luas, berbelai sejuknya udara pagi, tersengat manja mentar siang, dan tidur disarang ketika malam. Mencari makan dan pulang, begitu menariknya kehidupan mereka. Mungkin kata ini tak berperasaan, tapi dibalik semuanya. Ada nikmat yang membuat iri jiwa pada gerombolan burung-burung manyar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar