Sabtu, 21 April 2018

Malam Isra Miraj' di Masjid Jami' Malang

ilham dan david
Hari itu 13 April 2018, bertepatan pada hari jumat. Memang pas kuliah dan posisi lagi berada di Malang Kota. Belum bisa pulang karena masih kuliah dan sore harinya menghadiri agenda seminar Proposal dari Teman yang kuliah di Universitas Brawijaya.

Sekilas begitulah pengantar yang bisa aku paparkan sedikit. Lantas aku mendapatkan chating dari group kontrakan untuk datang ke Masjid Jami' yang memang niat awalnya untuk ikut kegitan Isra Miraj'. Memang atmosfir kalau dikota berbeda dengan di desa. Tentunya lokasi dirumahku, karena keberbedaan inilah yang kadang membuat aku saat berada di perantauan ini menjadi sedikit kurang memahami hiruk pikuk keagamaan. Karena memang individualisme yang kental, antara tetangga pun kurang berinteraksi. Kalau bukan urusan usaha dan dagang tidak mendapatkan alokasi tempat untuk berbicara.

Ya, begitulah kenyataanya. Bukan untuk mengada-ada temuan atau bagaimana, tapi inilah sebenarnya. Tapi memang aku percaya hakikat manusia Indonesia sebagai manusia yang berjiwa sosial. Sewaktu-waktu jelas akan tersadarkan dengan keadaan juga, sewaktu dalam setiap kehidupannya butuh bantu dari sesamanya.

Kamis, 12 April 2018

Cerita di Posharang Kediri

doc. silviananoerita
Kali ini aku akan berbagi ceritaku di minggu kemarin saat liburan ke Kota Kediri. Yaps, sebuah daerah yang berada di titik selatan jawa timur dengan sentral industri makanan terkhusus dalam olahan kedelai menjadi Tahu. Khas dan menjadi breanding atau simotik dari sebuah daerah di Kediri.

Dan kali ini aku akan berbagi pertualangan ini kemarin, ceritanya ingin mengunjungi Kediri karena kangen dengan daerah ini, terlebih ada seseorang yang perlu kiranya untuk di berikan perhatian. Jadi sebenarnya, tujuan utama aku liburan ke Kediri tidak lain dan tidak bukan hanya untuk melepas rasa keluh kesah, resa, rindu dan sebagainya. Memang usia tak lagi muda, tapi hasrat hati tetaplah sama. Demikianlah ucap para pejuang cinta.

Perjalanan aku lakukan dengan menggunakan kendaraan roda dua, ya... Tunggangan paling berkesan dan setia menemani saat-saat duka maupun bahagia. Karena biasanya banyak hal tidak enaknya saat berpertualang, terlebih menggunakan kuda merah ku ini. Kalau kepanasan tidak kehujanan, kalau kehujanan jelas tidak kepanasan, ungkapan ini barang sudah lazim ada didengarkan. Ketika jam menunjukan pukul lima pagi, aku sudah terbangun. Dan memang ada chat masuk yang memberitahukan jadi berangkat jam berapa? akhirnya aku bilang, jam tujuh atau jam berapa, yang jelas pagi hari. Begitu kiranya ingatanku tentang percakapanku dengan yang tadi di kangenin. Selain daerahnya, juga ada orang yang jelas menggerakan pikiran dan tubuh ini untuk memacu kendaraan sampai kesana.

Kamis, 29 Maret 2018

Kicauan Tokoh Politik Jadi Tranding di Media Sosial

Industri? Siapa yang tidak mengenal dengan industri semua jelas mengenalnya. Tapi sedikit yang memahami makna dibalik industri. Secara sederhana industri itu mengelolanya, apapun dikelola yang nanti outpunya bergantung dari subyek dari industri itu. Industri itu ibarat mesin, begitu juga media. Dia bisa aku katakan sebagai industri yang mempunyai daya tarik bagi consumernya. Dengan banyaknya yang mengunduh dan aktif bermain media sosial maka naiklah raiting dari industri media tersebut. Inilah sebagai permainan dibalik industri komunikasi yang sedang kita semua hadapi dewasa ini. Dan kegiatan jurnalistik yang membutuhkan beberapa etika, pedoman, dan aturan-aturan sedemikian hingga demi menyajikan fakta yang aktual dan dapat dipercaya masyarakat tidak lebih populer dengan ‘cuitan’ atau ‘kicauan mulut’ yang terbentuk tulisan para tokoh politik. sederhana memang, sekedar nyinyir lewat twitter lantas bisa melambung batasan-batasan media mainstream yang terbangun megah.

Rabu, 21 Maret 2018

Wisata Religi Masjid Tiban Turen-Malang

silviananoerita.com
Mau berbagi cerita pendek saat perjalanan di Malang Kabupaten. Perjalanan kali ini disponsori penuh oleh Silviana Noerita. Mulai dari kendaraannya, bensin, makan dan bahkan parkirnya. Jadi terimakasih banyak deh, jalan-jalannya semacam ditraktir. Walhasil, Liburannya dapat, kenyang pun juga  dapat. Dan tentunya, bisa mengabadikan momentum saat liburan hari nyepi tahun 2018.

Baiklah, perjalanan kemarin kami berdua memutuskan untuk melakukan perjalanan liburan ke salah satu tempat wisata di Malang Selatan. Di daerah Turen, tepatnya wisata religi masjid Tiban Turen. Sebenarnya sih dulu sudah pernah ke lokasi ini, tapi tidak saat mengabadikan moment berupa foto-foto atau vidieo. Karena memang dulu sekitar tahun duaribu duabelas masih belum ada media untuk fotografi. Terlebih teknologinya masih minimun juga. Toh walaupun ada, itupun masuk dalam katagori barang mahal. Kalau sekarang-kan tinggal jepret lewat kamera ponsel sudah bisa mengabadikan moment-nya.

Perjalanan kami lakukan sekitar pukul setengah sepuluh-an. Kalau tepatnya sudah lupa, yang jelas sewaktu dilokasi suasananya sudah panas. Dan bahkan panas banget, karena sudah masuk tengah hari. Dalam perjalanan seharusnya kami lewat daerah Jodipan keselatan, kalau melakukan perjalanan dari Malang Kota untuk menghemat jarak tempuh, tapi sayangnya aku memacu kendaraan kemarin malah memutar arah ke Kepanjen. Hasilnya kami mesti memutari dan melingkari Malang Kabupaten dulu. Tapi tidak menjadi masalah, cuman-kan kalau tahu gini lebih baik dengan jarak yang lebih dekat. Setalah sampai di daerah Pakisaji, aku mulai merasakan kelaparan. Karena memang niatnya sudah gak makan dari kontrakan, siapa tau di traktir. Lalu sekilas menawarkan untuk makan dan berdiskusi dalam perjalanan, untuk menentukan mau makan apa kita saat itu? Dan untungnya Silvi juga masih belum makan. Dan akhirnya, pilihan jatuh pada makan yang berkuah dengan ada ayamnya, lalu rasanya emezing deh. Jatuh pada makanan yang namanya soto.

Kamis, 15 Maret 2018

[Review] Jalan Tak Ada Ujung

google.com
Buku yang aku baca kali ini tampaknya seperti novel. Diulas sedemikian rupa mirip narasi tentang perjuangan seorang dalam ketegangan kemerdekaan. Tapi namanya manusia mempunyai ragam sifat dan wataknya. Kadang mempunyai watak yang lemah, sehingga saat dalam keadaan terdesak sekalipun masih lemah. Seperti halnya dalam tulisan ”Jalan Tak Ada Ujung” karangan Muchtar Lubis ini. Dalam kisahnya ada seorang guru yang bernama Guru Isa, dalam setiap tindakan dan tingkah lakunya sehari-hari selalu diselimuti dengan kegundahan, kegelisahan, dan aura negatif. Inilah yang mendorong Guru Isa selalu berpikir mundur dalam perjuangan melawan penjajahan. Dan sadar pun situasi saat ini termasuk ke dalam situasi serba genting. Transisi kemerdekaan dari Jepang saat tahun 1945 selepasnya memberikan trauma dan bekas jajahan-jajahan Belanda. Hidup seorang Guru Isa sangat lah jauh dari kata mewah. Semuanya serba kekurangan, terlebih dalam ekonomi yang sangat minim. Kadang istrinya kebingungan untuk memasak karena tidak ada yang akan di masak. Hal inilah yang membuat Guru Isa kebingungan dengan keluarganya. Selain dari itu, kebutuhan biologis dari istri Guru Isa yang bernama Fatimah tidak terpuaskan, karena kendala Guru Isa yang impoten atau lemah syahwatnya. Sehingga membuat Fatimah istrinya mengadopsi anak yang bernama Salim Kecil dan berusia empat tahun untuk menjadi anak angkatnya. Guru Isa dikenal dengan guru seni yang baik, sifatnya yang lemah lembut. Menjadi penyejuk bagi setiap masyarakat yang tinggal bersamanya, dengan kondisi yang baru merdeka. Sesekali tetangganya menyapa dengan salam merdeka kepada Guru Isa ketika dia berjalan menuju sekolahnya. Dan terkadang saya jengkel, kenapa keberanian sebagai seorang lelaki tidak pernah muncul ketika berada dalam keadaan mendesak. Memang ketakutan selalu menghantui guru Isa, jadi apapun yang terjadi selalu dirasakan dengan mimpi-mimpi buruk akan ketidak berdayaannya akan kehidupan yang tidak jelas adanya. Bagi saya, keperkasaan yang guru Isa tidak dapatkan diranjang dengan fatimah istrinya tapi tidak tercuitkan nyalinya jika menghadapi serangan dari penjajah. Walaupun tidak perkasa di ranjang, tapi tidak berati lemah juga saat menghadapi penjajah. Tapi menjadi keseruhan dari novel ini karena ada tokoh yang bernama Hanzil, yang gagah berani dalam melawa peperangan melawan Belanda