Minggu, 03 Mei 2015

Syukurku; Atas kemudahan Mu

skripsi
Tuntas Perjuangan Akhir untuk gelar Sarjana di Universitas Negeri Malang.

Selasa, 31 Maret 2015

Gerimis, Bola Pijar dan Jutaan Harapan

Gerimis kala itu mengingatkan saya akan 4 tahun yang lalu sewaktu saya masih di bangku sekolah, mendapatkan motivasi dari kakak tingkat untuk menuliskan 100 target yang akan dicapai dalam kehidupan. Belia berucap “tuliskan 100 tergetmu dalam bentuk nyata, jangan diangan-angan, karena kamu bisa lupa”. Bodohnya kala itu, saya juga menuliskan harapan yang tak jelas arahnya, layaknya anak TK yang diperbudak dengan harapan dan harapan. Gerimis kala itu mengajarkan saya untuk berfikir akan alam dan kehidupannya, kadang hidup itu mengalir bagaikan aliran air, kadang tenang, dan kadang kala berguncang. Semua fenomena itu adalah peristiwa ilahi yang lumrah adanya. 

Gerimis dengan bola pijar 40 watt dalam gudang busuk memberikan formula tersendiri untuk merenungkan hal pasti, kadang realitas hari ini menjadikan saya lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan. Terhantui oleh harapan kadang membingungkan dan membelenggu pikiran hingga akhirnya depersi berkelanjutan terjadi. Sejenak saya berbicara dengan bola pijar, saya padangi dia dari kegelampan cahaya malam. Lalu bertanya, kenapa dunia ini sedemikian kompleks? Apa saya yang salah menilai dunia? Apa saya yang terlalu bodoh menelusuri dunia? Atau dunia sendiri yang membodohkan dirinya lantas saya pun ikut pada kebodohannya. 

Senin, 30 Maret 2015

Aku dan Perjuangan memakai Toga

Glipang

Cerita yang saya bawakan ini hasil dari pengalaman pribadi yang saya alami pada saat melangkah menjadi mahasiswa pada tingkat akhir. Masa dimana yang lain disibukan dengan tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana yang lazim didengar masyarakat dengan julukan skripsi. Saya pun mengalami hal yang demikian, sama dengan mahasiswa yang lain. Proses panjang tidak jarang saya jalani dan lalui dengan ikhlas. Kendala dan tekananpun banyak dialami. Sedikitnya saya menyelesaikan skripsi yang saya buat dalam jangka waktu yang terbilang panjang dan lama. Selama 4 bulan saya melakukan penelitian dan selama itu pula saya mendapati banyak kendala. Kendala yang saya hadapi sebenarnya adalah kendala klasik yang semua orang rasa sudah tidak lazim lagi untuk didengar; Malas. Saat melihat layar komputer dan duduk termenung dengan tumpukan banyak buku membuat saya  lebih banyak frutasi dan ingin segera beralih dan beranjak pergi, entah kenapa spirit dan dorongan untuk menulis sangat susah. Apalagi menulis dengan gaya bahasa yang formal dan sesuai dengan kaidah dan aturan yang sudah ditentukan dalam perguruan tinggi. 

Tepat pada bulan november saya mulai menuliskan hasil tuntutan akhir dalam kuliah. Perjuangan saya mulai dengan menuliskan proposal skripsi, dalam jangka waktu yang lumayan singkat dan dengan kemauan yang besar karena mendapatkan tekanan dan motivasi dari dosen pembimbing sehingga saya pun beranjak bangkit untuk menulis. Semua tulisan yang saya tuliskan dalam bahasa yang baku dan formal dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, tidak jarang saya pun belajar. Bentuk coretan dan kritikan sangatlah banyak, bukan bearti ini adalah tuntutan saya untuk menyerah dan putus asa. Pada jangka waktu kurang lebihnya 2 minggu akhirnya proposal yang saya buat mendapatkan lampu hijau walaupun tidak mendapatkan restu resmi yang berupa ACC tapi saya memberanikan diri untuk membuat surat penelitian dan melakukan penelitian di bulan itu, meski dalam pikiran saya masih belum ada gambaran jelas bagaimanakah yang saya harus lakukan. Pemikiran yang saya lakukan kala itu bisa dikatakan instan, tindakan yang saya lakukan banyak. Alhamdulillah, benar pepatah orang yang mengatakan bahwa usaha tidak pernah mengkhianati takdirnya. Saya pun setelah mendapatkan surat ijin dari Perguruan tinggi untuk mengunjungi tempat penelitian melakuakn tindakan untuk melajutkan penelitian dan meminta surat di bangkesbangpol di Kabupaten Probolinggo. Selama kurang lebihnya satu minggu saya tinggal dirumah dan mendapatkan hasil yang memuaskan, surat penelitian saya dapatkan. Secara de facto saya resmi mendapatkan ijin penelitian dari perguruan tinggi dan pemerintah kabupaten Probolinggo. Memasuki akhir bulan November, motivasi saya mulai surut dan kembali tidak tenang. Banyak agenda untuk jalan jalan yang menjadikan faktor utama saya mulai lupa akan skripsi, dan sejenak saya tinggalkan. Sempat mendapatkan komentar dari pembimbing saya, yang berucapa kalau teman kamu sudah ada yang mendaftarkan untuk sidang, sedangkan kamu kapan mau sidang. Sebenarnya saya sudah tidak berniat lagi, semenjak ada kendala dalam penelitian untuk melanjutkan dan menuliskan sehingga lulus dengan tempo waktu yang singkat. 

Aku dan Mereka yang telah Sarjana

selamat Abu Supyan, S.Si
Mahasiswa? Iya, sandangan status sosial dalam masyarakat buat mereka yang sedang belajar di bangku perkuliahan atau disebut perguruan tinggi.

Perjuangan tidak berhenti pada titik dimana kita sudah merasa berkecukupan dengan prestasi dan ilmu yang sudah di dapatkan dalam bangku sekolah, akan tetapi masih banyak galian ilmu yang belum diketahui sehingga keinginan untuk melanjutkan ke peruguran tinggi itulah landasan dan dasar kepemikiran kami.

Pertama, saya ucapkan selamat untuk teman SMA, Abu Supyan yang sekarang telah resmi menggunakan gelar Sarjana Sains. Kemarin telah wisuda bersama Della dari jurusan Hukum di Universitas Brawijaya. Saya bercerita sedikit mengenai lulus dan wisuda, proses yang panjang terjadi selama menjadi mahasiswa. Kalau kalian belum mendapatkan lika liku selama menjadi mahasiswa bearti masa selama menjadi mahasiswa anda kurang beruntung. Karena tidak semua orang berkesempatan untuk mendapatkan sandangan status dimasyarakat yang bergelar mahasiswa. Boleh kegiatan dalam perkuliahan yang bersifat non akademik di ikuti, tapi ingat akan komitmen awal pada saat anda ijin dengan orang tua yakni untuk belajar dan menampung ilmu semasa di perkuliahan. Sederhana sebenarnya dalam kampus, bahkan semua kampus. Jadilah mahasiswa yang baik, rajin dan tanggungjawab akan semua yang ada dan dibebankan kepada kita sebagai mahasiswa.

Minggu, 22 Maret 2015

Candi Jabung Paiton Probolinggo

candi jabung
Candi dianggap sebagai tempat untuk bertapa, menyendiri dan pesan religius yang di dapatkan untuk selalu merenungkan kesalahan yang sudah terjadi. Fakta sejarah menjelaskan, bahwasanya candi Jabung merupakan salah satu bukti peninggalan sejarah dari kerajaan majapahit yang sempat hidup dan tinggal di Probolinggo tepatnya di kawasan Paiton.

Candi jabung merupakan candi kecil yang ukuruannya 35x40 meter dengan bahan dari batu bata yang ditumpuk tanpa adanya semen yang melekatkan antara satu bata dengan bata yang lainnya, mendapatkan hasil nila estetika. Candi jabung didirikan pada tahun 1276 C (saka) atau sekitar tahun 1354 masehi. Pemeluk agama masyarakat pada masa kejayaan majapahit yakni Hindu Budha.