Sabtu, 28 April 2018

Aku yang Mendambakan Senja


Kehidupan? beginilah memang sebenarnya yang ada. Berjalan maju tak seirama dengan dambaan angan-angan. Kadang kala aku merasa sangat sukar untuk menjelaskan tentang apa itu yang namanya kehidupan, hidup yang sedang aku alami hari ini.

Hiruk pikuk kondisi panas, dingin dengan iklim tropis yang ada di Indonesia. Sejuta kejutan dengan tempo hujan yang deras dan kadang kemarau yang panjang bukan menjadi sebab alasan untuk merintangi kehidupan. Beginilah memang seharusnya kejadian alam. Karena semua beredar sesuai fungsi dan tugasnya masing-masing. Dan sepantasnya aku tidak pernah menyalahkan Takdir Ilahi ini.


Dalam daripadanya, aku mampu menelaah dan merenung lebih dalam akan keindahan nikmat karunia Tuhan ini. Aku kadang merasa iri dan ingin kembali bijak mengenal alam yang selalu baik dan harmoni dengan kehidupan sekelilingnya. Ayam yang setiap pagi tertib untuk menggemakan suara-suara khas ayam jantan. Yang terang menandakan agar kita segera bergegas dan bangkit untuk melihat kehidupan. Bukan hanya itu saja, daun yang meneteskan embun tanda sisa dari air semalam yang mengendap indah dipermukaan kulit daun-daun menyelaskan harmonisasi kehidupan. Tambah kicauan-kicauan burung-burung memberikan warna akan pentingnya kehidupan ini. Indah, satu kata itulah yang bisa aku dambakan.

Kondisi pagi tentu membawa semangat diri melakukan aktifitas dan kegiatan, tapi saat senja menyapa. Disinilah keteduhan dan ketanang pun terasa. Mana lagi nikmat yang benar nikmat selain melihat matahari senja dari ufuk barat tenggelam? tidak ada, bagiku hanya pancaran sinar surya yang menenggelamlah yang diidam-idamkan. Terlebih di tepian pinggir pantai yang senantiasa memantulkan cahaya yang sangat menghayutkan sanubari ku.

Dalam sungguh dalam, sampai tak mampu ku jelaskan. Inilah yang jelas aku damba-dambakan akan yang namanya senja. Orange dan merah kekuningan yang didambakan, terlebih deburan ombak pantai menghanyutkan suasana dalam alunan romantis yang tak bisa ku lupakan dalam ingatan.

Begitu seharusnya tugas-tugas dari alam yang bisa mengharmonisasikan seluruhnya. Aku manusia, dia mentari dan deburan ombak yang menghanyutkan suasana. Kadang terlintas dalam hati dan pikiranku, boleh kiranya mereka merabah, bercumbu mesra dan bahkan boleh bersetubuh dengan jiwa yang kosong siap diisi dengan senja sore yang indah tak mampu kujelaskan dengan kata dan kalimat indah dalam sastra sekalipun.

Pasti, senja memberikanku pada keadaan tidak waras bahkan akal pikiranpun mampet tak jelas arahnya seketika detik, menit, dan bahkan jam. Sampai ia benar tenggelam dan petang menggantikan semuanya. Disinilah saat aku merenungi bahwa keindahan dan nikmat karunia Tuhan apa yang tidak bisa dinafikan diri ini. Tidak ada, benar sesungguhnya keanggunana ini tidak lain atas aturan sang maha pengatur segala yang telah diciptanya.

Sekali lagi, bolehlah aku berucap pada senja sore itu, aku rindu dan ingin ku mendambakan senja lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar