Kamis, 15 Maret 2018

[Review] Jalan Tak Ada Ujung

google.com
Buku yang aku baca kali ini tampaknya seperti novel. Diulas sedemikian rupa mirip narasi tentang perjuangan seorang dalam ketegangan kemerdekaan. Tapi namanya manusia mempunyai ragam sifat dan wataknya. Kadang mempunyai watak yang lemah, sehingga saat dalam keadaan terdesak sekalipun masih lemah. Seperti halnya dalam tulisan ”Jalan Tak Ada Ujung” karangan Muchtar Lubis ini. Dalam kisahnya ada seorang guru yang bernama Guru Isa, dalam setiap tindakan dan tingkah lakunya sehari-hari selalu diselimuti dengan kegundahan, kegelisahan, dan aura negatif. Inilah yang mendorong Guru Isa selalu berpikir mundur dalam perjuangan melawan penjajahan. Dan sadar pun situasi saat ini termasuk ke dalam situasi serba genting. Transisi kemerdekaan dari Jepang saat tahun 1945 selepasnya memberikan trauma dan bekas jajahan-jajahan Belanda. Hidup seorang Guru Isa sangat lah jauh dari kata mewah. Semuanya serba kekurangan, terlebih dalam ekonomi yang sangat minim. Kadang istrinya kebingungan untuk memasak karena tidak ada yang akan di masak. Hal inilah yang membuat Guru Isa kebingungan dengan keluarganya. Selain dari itu, kebutuhan biologis dari istri Guru Isa yang bernama Fatimah tidak terpuaskan, karena kendala Guru Isa yang impoten atau lemah syahwatnya. Sehingga membuat Fatimah istrinya mengadopsi anak yang bernama Salim Kecil dan berusia empat tahun untuk menjadi anak angkatnya. Guru Isa dikenal dengan guru seni yang baik, sifatnya yang lemah lembut. Menjadi penyejuk bagi setiap masyarakat yang tinggal bersamanya, dengan kondisi yang baru merdeka. Sesekali tetangganya menyapa dengan salam merdeka kepada Guru Isa ketika dia berjalan menuju sekolahnya. Dan terkadang saya jengkel, kenapa keberanian sebagai seorang lelaki tidak pernah muncul ketika berada dalam keadaan mendesak. Memang ketakutan selalu menghantui guru Isa, jadi apapun yang terjadi selalu dirasakan dengan mimpi-mimpi buruk akan ketidak berdayaannya akan kehidupan yang tidak jelas adanya. Bagi saya, keperkasaan yang guru Isa tidak dapatkan diranjang dengan fatimah istrinya tapi tidak tercuitkan nyalinya jika menghadapi serangan dari penjajah. Walaupun tidak perkasa di ranjang, tapi tidak berati lemah juga saat menghadapi penjajah. Tapi menjadi keseruhan dari novel ini karena ada tokoh yang bernama Hanzil, yang gagah berani dalam melawa peperangan melawan Belanda


Buku “Jalan Tak Ada Ujung” menarik untuk dibaca bagi yang senang dengan bacaan yang ringan tapi tetap memberikan kepiawaian akademik. Lanjut lagi pembahasan dalam buku “Jalan Tak Ada Unjung”, sebenarnya Muchtar Lubis merancang benar bahwa tidak ada yang namanya kehidupan tanpa masalah. Disini lah masalah selalu muncul dan muncul, sehingga tidak ada jalan buntu dalam kehidupan. Selalu ada namanya masalah menjalani terus menerus. Kehidupan pun selalu begitu, tidak putus putusnya.

Simpulan yang bisa kita petik dari novel ringan yang berjudul “Jalan Tak Ada Ujung” memberikan arti bahwa kita mesti berusaha untuk menjadi pribadi yang baik. Meskipun banyak masalah yang tak ada ujungnya. Tapi tetap berjuang dalam kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar