Kamis, 29 Maret 2018

Kicauan Tokoh Politik Jadi Tranding di Media Sosial

Industri? Siapa yang tidak mengenal dengan industri semua jelas mengenalnya. Tapi sedikit yang memahami makna dibalik industri. Secara sederhana industri itu mengelolanya, apapun dikelola yang nanti outpunya bergantung dari subyek dari industri itu. Industri itu ibarat mesin, begitu juga media. Dia bisa aku katakan sebagai industri yang mempunyai daya tarik bagi consumernya. Dengan banyaknya yang mengunduh dan aktif bermain media sosial maka naiklah raiting dari industri media tersebut. Inilah sebagai permainan dibalik industri komunikasi yang sedang kita semua hadapi dewasa ini. Dan kegiatan jurnalistik yang membutuhkan beberapa etika, pedoman, dan aturan-aturan sedemikian hingga demi menyajikan fakta yang aktual dan dapat dipercaya masyarakat tidak lebih populer dengan ‘cuitan’ atau ‘kicauan mulut’ yang terbentuk tulisan para tokoh politik. sederhana memang, sekedar nyinyir lewat twitter lantas bisa melambung batasan-batasan media mainstream yang terbangun megah.


Muatan dari cuitan jauh dari kata yang lugas dan baik bagi pembacanya. Tidak banyak, hanya beberapa kata dan bisa menjadi pemberitaan yang bisa menaikan raiting dari si pemberitaan yang pertama kali. Inilah industri yang bisa aku katakan sebagai pasar. Tujuannya tak lain dan tak bukan untuk eksis hadir dipermukaan. Lucu sebenernya, tapi begitulah sejatinya watak masyarakat kita. Senang dengan namanya pemberitaan miring, dan mengandung konotasi negatif. Kadang tidak ada segi akademik tetapi menjadi viral di permukaan. Sampai terkadang menjadi pemberitaan nasional. Begitu besar berpengaruhnya media sosial hari ini, kegiatan yang dibumbui kepentingan akan lebih sampai apabila dilakukan dengan menggunakan media sosial utamanya twitter.

Tidak jauh dari bulan-bulan ini, cuitan dewan rakyat yang berinisial FZ mengutarakan ketidakpuasannya terhadap menteri kelautan yang dalam subtansi cuitan nyinyir mengatakan penenggelaman kapal bukan bentuk keberhasilan dari kementerian tersebut. Cuitan nyinyir ini lantas ditanggapi oleh si empunya, dan dengan balasan yang menurut aku unik, sehingga viral menjadi pemberitaan. Balasan empunya yang berinisial SP yang mengatakan subtansi-nya apa tingkat keberhasilan dewan yang mencibiri dirinya? Bagi aku, benar juga. Hanya manusia nyinyir dan tidak berkarya yang bisa mengkritik. Sebenarnya, pemikiran yang demikian mangkrak dan menjadikan republik ini menjadi sangat mundur. Perilaku yang bisa aku katakan tidak pantas berkata demikian, sedangkan dirinya tidak ada sumbangsih nyata dalam kemakmuran rakyat. Memang sebuah kritik penting, tapi sesama tokoh publik yang diamati masyarakat, selayaknya cuitan nyinyir FZ tidak dilakukan lagi. Entah itu digunakan sebagai strategi untuk menaikan raiting dirinya, demi kepentingan semata. Karena kita pahami bersama, di tahun yang serba berpolitik ini kemungkinan melempar isu berbagai macam. Kalau aku boleh beri masukan nih, sesama tokoh yang diamati media sosialnya oleh masyarakat sudah selayaknya lebih bijak menggunakan jempol jarinya. Penghakiman memang sudah maju, tapi buka bearti mencari musuh yang lantas kayak serial tom and jerry. Kejar-kejaran, cari pembenarannya sendiri.

Kecewa dengan menggunakan pencitraan positif, dan berakhir pada pencitraan negatif dengan cara mencari-cari kesalahan lawan politiknya yang bertujuan hanya untuk kegiatan partainya. Kadang aku berpikir demikian, karena banyak strategi yang digunakan untuk mencari popularitas bukan lagi kualitas atau elektabilitas. Tapi pemutaran isu, seperti kritikan kepada penguasa yang memiliki potensi suara untuk pemilihnya. Sudah barang lazim, dan tidak lagi menjadi fenomena rahasia. Strategi menjelang pileg ataupun pilpres dimulai dari hari ini. Mencoba pemanasan mesin partai sejauh mana jangkauan suara, atau elektabilitas partai dalam pemilihan umum. Begitulah kiranya jurnalistik yang membuat liputan susah payah, mengungkapkan fakta dengan cara jurnalis yang mendalam tapi hasilnya masih jauh dari kata cukup. Cukup maksudnya, untuk menjadi tulisan paling hits dalam pemberitaan. Tapi malah cuitan nyinyir tokoh politik yang menjadi lebih massive dan bertahan menjadi trend.

Harap maklum, mereka yang menjadi dewan juga manusia. hehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar