Senin, 30 Maret 2015

Aku dan Perjuangan memakai Toga

Glipang

Cerita yang saya bawakan ini hasil dari pengalaman pribadi yang saya alami pada saat melangkah menjadi mahasiswa pada tingkat akhir. Masa dimana yang lain disibukan dengan tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana yang lazim didengar masyarakat dengan julukan skripsi. Saya pun mengalami hal yang demikian, sama dengan mahasiswa yang lain. Proses panjang tidak jarang saya jalani dan lalui dengan ikhlas. Kendala dan tekananpun banyak dialami. Sedikitnya saya menyelesaikan skripsi yang saya buat dalam jangka waktu yang terbilang panjang dan lama. Selama 4 bulan saya melakukan penelitian dan selama itu pula saya mendapati banyak kendala. Kendala yang saya hadapi sebenarnya adalah kendala klasik yang semua orang rasa sudah tidak lazim lagi untuk didengar; Malas. Saat melihat layar komputer dan duduk termenung dengan tumpukan banyak buku membuat saya  lebih banyak frutasi dan ingin segera beralih dan beranjak pergi, entah kenapa spirit dan dorongan untuk menulis sangat susah. Apalagi menulis dengan gaya bahasa yang formal dan sesuai dengan kaidah dan aturan yang sudah ditentukan dalam perguruan tinggi. 

Tepat pada bulan november saya mulai menuliskan hasil tuntutan akhir dalam kuliah. Perjuangan saya mulai dengan menuliskan proposal skripsi, dalam jangka waktu yang lumayan singkat dan dengan kemauan yang besar karena mendapatkan tekanan dan motivasi dari dosen pembimbing sehingga saya pun beranjak bangkit untuk menulis. Semua tulisan yang saya tuliskan dalam bahasa yang baku dan formal dikonsultasikan kepada dosen pembimbing, tidak jarang saya pun belajar. Bentuk coretan dan kritikan sangatlah banyak, bukan bearti ini adalah tuntutan saya untuk menyerah dan putus asa. Pada jangka waktu kurang lebihnya 2 minggu akhirnya proposal yang saya buat mendapatkan lampu hijau walaupun tidak mendapatkan restu resmi yang berupa ACC tapi saya memberanikan diri untuk membuat surat penelitian dan melakukan penelitian di bulan itu, meski dalam pikiran saya masih belum ada gambaran jelas bagaimanakah yang saya harus lakukan. Pemikiran yang saya lakukan kala itu bisa dikatakan instan, tindakan yang saya lakukan banyak. Alhamdulillah, benar pepatah orang yang mengatakan bahwa usaha tidak pernah mengkhianati takdirnya. Saya pun setelah mendapatkan surat ijin dari Perguruan tinggi untuk mengunjungi tempat penelitian melakuakn tindakan untuk melajutkan penelitian dan meminta surat di bangkesbangpol di Kabupaten Probolinggo. Selama kurang lebihnya satu minggu saya tinggal dirumah dan mendapatkan hasil yang memuaskan, surat penelitian saya dapatkan. Secara de facto saya resmi mendapatkan ijin penelitian dari perguruan tinggi dan pemerintah kabupaten Probolinggo. Memasuki akhir bulan November, motivasi saya mulai surut dan kembali tidak tenang. Banyak agenda untuk jalan jalan yang menjadikan faktor utama saya mulai lupa akan skripsi, dan sejenak saya tinggalkan. Sempat mendapatkan komentar dari pembimbing saya, yang berucapa kalau teman kamu sudah ada yang mendaftarkan untuk sidang, sedangkan kamu kapan mau sidang. Sebenarnya saya sudah tidak berniat lagi, semenjak ada kendala dalam penelitian untuk melanjutkan dan menuliskan sehingga lulus dengan tempo waktu yang singkat. 

Keputusan yang saya ambil ini keputusan ikhlas dan tidak ada paksaan, sehingga saya merelakan untuk mengambil dan mengulang kembali tulisan saya di semester depan, tepat akhir tahun yakni bulan Desember saya tidak lagi membuka tulisan skripsi saya. Disitu benar break dan istirahat akan yang namanya gelutan tulisan formal ilmiah yang pernah saya tuliskan. Saat bertemu dengan pembimbing yang hanya memberikan jangka waktu dua minggu untuk menyelesaikan, saya hanya berucap, “maaf ibu, saya belum bisa dan akan melanjutkan di semester depan”. Semacam keputusan yang saya ambil secara spontan dan progesif tanpa adanya pemikiran. Tapi hal itulah yang terjadi, dan perjuangan pun berakhir. Saya menikmati masa liburan dan sebelas teman saya yang satu kelas melakukan perjuangan atas karya yang ilmiah yang dibuatnya. Dan disaat saya mengetahuinya, saya pun tersadar bahwa apa yang sempat dulu saya ambil sebuah keputusan salah, dan penyesalan akan berakhir dengan duka. Itulah bagian dari skanario Ilahi yang tak tau apa makna mendalamnya. Hidup bukan bearti terdampar dalam jurang masa lalu, hidup selalu maju dan selaras kedepan, melihat kebelakang tak ada larangan, akan tetapi larut akan utopia dan uforia semu itu akan menyusahkan dan membekaskan duka mendalam. Benar petuah yang sering saya dengarkan, bahwasnya “tatkala pilihan telah ditetapkan maka konsekusnsi menjadi sebuah keharusan”. Saya sebagai subyek pelaku tentulah selalu dihadapkan dengan sebuah pilihan, entah pilihan keduanya, ketiga, dan bahkan keempatnya salah ataupun benar. Resiko selalu ada didalamnya, seperti halnya teori klausial yang mengartikan bahwa selalu ada balasan atas apa yang telah diperbuat oleh manusia. Kadang kala saya berfikir, kemarin sempat memutuskan untuk mengulang sks yang sama? Apakah bijak pilihan ini? Semoga tak terulang akan keputusan yang sama agar tidak terlalu larut akan penyesalan dan duka mendalam.

Perjalanan hidup saya pun berlanjut, sebab kerangka waktu terus maju dan maju tiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad, dst. Semua menandakan bahwa saya tidak boleh terlalut akan nostalgia hitam dalam kehidupan, menulis pun saya perjuangkan. Menuliskan sebuah karya ilmiah dalam lebaran lembaran putih yang tak berbecak tidaklah mudah. Terlebih saat saya bimbingan kembali dengan dosen, hal yang pertama kala itu diingat adalah cacian, sindiran dan hujatan halus. Entah kenapa, saya mulai merenungkan kembali apa makna yang telah disampaikan sampai sedemikian bahasa yang dilontarkan dari lidah halus yang terbungkus bibir itu?. Kadang saya mulai berfikir akan kebodohan dan tindakan yang saya lakukan. Kenapa hal ini terjadi? Kenapa rasa dan sifat malas ini muncul dikala kondisi yang seperti ini? Bangkit dari keterpurukan kata petuah orang adalah kegagalan yang tertunda, ada benarnya petuah itu. Ucapan yang saya dapatkan saat masuk awal perkuliahan dan bimbingan dengan dosen pembimbing, ditanya soal kehadiran dan kosultasi yang dilakukan. Saya ingat betul akan kata yang diucapkan, “kamu selama  setahun ini kemana? Kenapa tidak bisa seperti teman yang lain, mereka sudah selesai menyelesaikan tugas akhir skripsinya, kamu malah masih bimbingan disini”. Ucapan kata ini memberikan arti bahwa saya harus lebih semangat dan tidak terlena akan kenyamanan semu kehidupan semata. Dan, setelah saya berikan draf bab 3 skripsi saya pada beliau, akhirnya beliau berucap kalau besok bisa diambil. Rasa penasaran saya akan kata yang terucap terus dihantui dalam pikiran kala itu, dan hingga hari ini. Apa maksud dan arti dari kata yang terlontarkan itu? Pulang sampai dikontrakan saya pun masih terhantui akan kata itu, salah tindakan yang saya lakukan pada akhir tahun kemarin. Bersamaan dengan lelah menunggu, akhirnya saya tertidur dalam nostalgia kata kata pembimbing. Esok harinya, dengan optimisme dan semangat baru saya beranjak dari kamar tidur dan bergegas berpakaian rapi ala mahasiswa. Niat untuk melihat hasil tulisan dari skripis yang sudah saya buat itu, sampai dikampus saya bertemu dengan beliau. Seketika dalam perjalanan mengajar perkuliahan, saya disuruh ikut dan masuk kantor jurusan. Dengan nada lirih saya berucap, bagaiamana pak? Seketika itu dengan nada sindiran berucap “kamu dirumah bukan tambah pintar, sering ngobrol sama embah embah itu ya? Atau kalau dirumah kurang diskusi sehingga susah keluar idea?” cuplikan kata itu yang saya ingat. Entah hinaan atau cacian sindiran dan sebagainya buat saya. Beranjak dari kursi dan salim atas restu untuk merevisi dan kalimat terakhir dicuapkan untuk membaca lagi tulisan yang sudah saya tulis ini.

Perjuangan untuk memakai toga pun berlanjut, berlanjut dengan perjuangan. Konstultasi terus dengan sistem grilya, sedikit yang saya tuliskan lalu saya konsultasikan dan minta bimbingan. Benar dengan petuah dari seseorang yang mengatakan “data yang kamu peroleh kalau tidak dituliskan akan percuma”. Petuah ini memberikan semangat untuk kembali menuliskan karya ilmiah yang pertama dalam usia 22 tahun ini. Sempat saya renungkan saat mandi, benar juga yang diwasiatkan, kadang banyak dari mahasiswa merasa bangga dan bahagia apabila masuk dalam fase yang disebut penelitian. Sebab dengan penelitian maka kita akan mendapatkan data dari hasil lapangan, akan tetapi saya pun sempat berfikir; apa guna itu semua apabila tak dituliskan? Data data yang diperoleh tadi hanya menjadi data mentah saja, penelitian yang kamu peroleh tadi akan menjadi bahan bahan dasar saja, bangunan yang terkonsep matang dalam ratio kalian belum terlihat jelas dalam tuangan tulisan. Dan saya pun berfikir, hidup ini selalu tentang tantangan, masalah dan ketidakwajaran, tidak jarang godaan dalam melakukan perjuangan selalu ada dan mengiblisi setiap saat. Rasa malas pun yang terkubur dalam lubang lumpur itupun muncul lagi, disaat motivasi bangkit rasa malas pun datang. Tantangan yang sesunggunya dalam usaha mahasiswa memakai toga ialah rasa malas, bukan untuk bisa atau tidak bisanya menulis, bukan pada pembimbing yang selalu menghujat, bukan pada teman yang kadang kala menganggu, bukan pada lingkungan sekitar, bukan pula pada internet dan media sosial yang kalian miliki. Hakikat dari problema yang didapatkan saat saya berjuang untuk mengenakan toga ialah AKU dan egoisitas akan keinginan iblis semata. Selebihnya bonus godaan dari faktor eksternal, diri modal utama untuk bangkit, diri modal utama untuk mau dan mau, diri modal utama untuk menulis, diri modal utama untuk beranjak maju. Lupakan gulita lingkungan, jikalau hakikat diri mampu menjadi prisai dan tameng akan bisikan iblis yang gentayangan maka semua problema yang ada menjadi teratasi dengan wajar. Bertepatan dengan hal ini, saya memberikan motivasi diri dan keinginan untuk bangkit, bangkit dari rasa malas menulis. Hingga pada minggu minggu selanjutnya saya menyempatkan untuk bimbingan dengan bahasa dan tulisan yang seadanya dan sewajarnya, dan hingga pada bulan februari saya melakukan penelitian lagi. Sebab data yang saya tuliskan belum mencukupi dan mengutarakan arti dari skripsi yang saya tuliskan. Perjuangan pun kembali dilakukan, layaknya pangeran dengan pedang ditangan kanan dan menunggangi kuda putih. Rasa percaya diri,dan key untuk menang saya dapatkan setelah penelitian ini selesai. Akhirnya saya menyempatkan untuk mampir lagi ke desa penelitian, sebenarnya sudah sering mampir di desa ini. Mendapatkan banyak masukan dari dosen pembimbing memberikan banyak idea untuk menjadikan penelitian yang lebih baik. Dalam penelitian kali ini, saya bersama sanggar ikut untuk menarikan dan belajar menari kesenian tarian. Melakukan gerakan dalam tarian sebanyak 16 jenis gerakan yang ditampilkan yang diulang dan di acak secara sistematis ditampilkan. Jenis kesenian tari yang ada di Kabupaten Probolinggo merupaka tarian yang khas dan asli dari daerah. Meskipun banyak kultur yang diadobsi dari suku madura akan tetapi secara hakikat jenis kesenian tari Glipang ialah kesenian tradisional bawaan masyarakat pendil. 

Saya pun belajar untuk menarikan gerakan, menggunakan pakaian yang digunakan. Sempat was was pada saat menggunakan pakaian tari Glipang dan ada rasa minder karena banyak orang yang menyaksikan saya menggunakan pakaian ini. Sejenak saya pun terdiam sambil tertawa dalam hati, apakah saya yang seperti ini mampu mengikuti jenis tarian dan gerakan yang akan di mainkan? Selepas itu semua, saya pun mulai belajar gerakan demi gerakan. Dengan sabar Marisin mengajarakn gerakan tari Glipang secara pelahan, disertakan nama gerakan yang sebanyak 16 gerakan. Selepas gerakan selesai saya tampilkan, mulailah saya menemukan jawaban atas pikiran saya sebelumnya; bahwa semua jika diniatkan dan dengan maksud untuk belajar maka tidak ada istilah tidak, semuanya pasti bisa. Saya yang hampir lama tidak menari (terakhir SD) dan sekarang bisa menggerakan tarian asli Probolinggo. Saya menanyakan setiap gerakan dan arti maknanya, sebab ada penggambaran dari setiap gerakan. Tidaklah mungkin gerakan yang dibuat tidak ada landasan dasar dan tanpa makna yang akan disampaikan. Saya sangat bersyukur, sebab atas himbauan dan saran dari dosen pembinbing sehingga muatan data dalam skripsi lebih autentik. Saya lega, sebab dengan tujuan inilah setidaknya mampu melahirkan beni baru dalam kebudayan asli Indonesia. Saya beruntung, sebab dengan bukti inilah saya berkesempatan untuk belajar kesenian, walapun saya bukan berada dalam jurusan seni tari akan tetapi pengetahuan sangatlah penting dipelajari. Terlebih saya bisa mengartikan setiap gerakan yang ada dalam kesenian tari Glipang. Rasa was-was dan takut yang ada dipikiran semua hilang seketika dengan datangnya semangat untuk belajar.

Beruntung, saya bisa belajar tarian tradisional. Proses penelitian saya belum berakhir, selanjutnya saya ingin melihat secara langsung dan mendokumentasikannya secara langsung penampilan dari kesenian tari Glipang. Dalam kegiatan pramuka yang bertempat di Desa Nogosaren Gading Wakal, saya diberikan kesempatan untuk menyaksikan. Mulai dari geladi resik, persiapan dan penampilan semua saya alami sendiri. Banyak fakta yang bisa dipetik dan saya peroleh dari kejadian langsung ini. Banyak hal yang berbicara, banyak hal yang diam semula mulai bergerak, ada pikiran semula batu menjadi air. Motivasi apa kah ini? Diri seolah tergerak untuk menuliskan lembaran-lembaran makna yang muncul dipermukaan untuk dituliskan dalam paparan data dalam skripsi. Diri ingin menuliskan bait-bait penting dalam bingkai sastra dalam skripsi. Diri mulai bangkit dan begegas dengan data yang didapatkan berbicara lebih. Ucap syukur kala itu, saya bisa lebih mendalami makna dari gerakan dan letak kearifan lokal yang terkandung dalam setiap tampilan dalam gerakan tari Glipang. Selepas dari penampilan, saya pun beranjak pulang. Sore hari tepatnya, saya pulang dengan mengendarai motor, tidak jarang resa dan rasa was-was saya dapatkan sebab kondisi lingkungan yang sepi membuat ketakutanpun menjadi. Ucap syukur, saya sampai rumah dengan selamat meski kondisi dalam keadaan lelah dan larut malam. Tapi, semuanya terbayarkan lunas dengan hasil yang didapatkan. Perjuangan memang tidak berujung pada penyesalan, perjuangan tidak aknn memberikan ksesdian, perjuangan tidak akan memberikan kemungkaran, perjuangan tidak akan menuliskan duka mendalam, dan perjuangan tidak akan membuat kehancuran di kehidupan. Percaya atau tidak? Saya lah orang yang pertama percaya akan usaha dan takdir yang dilalui dengan perjuangan. Istilah yang sederhan dan kerap didengar tapi dalam fonomenanya lebih banyak larut dalam hamparan bunga mawar.
Memperoleh data tambahan dan melihat penampilan secara langsung membuat saya begegas untuk menuliskan hasil ini dalam bentuk skripsi. Alhasil, semuanya terbayarkan dalam waktu seminggu lebih beberapa hari. Selesai semua bab 3 saya dengan revisi sekali, saya tambahkan semua data yang ada di lapangan dengan penulisan pribadi. Dari sini saya sampaikan, bahwa tidak ada yang sifatnya absolut dan mutlak dikehidupan manusia. Statis itu hanya bagi mereka yang berfikir fisik atau bisa saya katakan kaum materialis.  Semua kehidupan diduunia ini selalu dinamis, berubah dan luwes, bergantung kepada diri yang membawakanya. Dengan sandangan mahasiswa saat di kampus hanya menjadi gurauan panjang bagi masyarakat, status ini sekarang tidak lagi dimuliakan apabila saya belum bisa memberikan perubadahan. Kadang dampak dan rasa yang dihasilkan dari karya saya dipertanyakan secara mendalam. Terkesan sederhana, manfaat bagi kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat seperti apa?
Merevisi selesai, akhirnya saya melanjutkan untuk bangkit pada bab 4 dan 5 penulisan skripsi, dengan mencari kepustakaan dalam bentuk kebudayaan, tarian dan musik bahkan masyarakat probolinggo dan masyarakat madura saya baca. Bermacam teori saya dapati, tidak muda memang dalam pembahasan, tidak segampang omongan orang yang mengatakan inti dari permasalahan skripsi ada pada paparan data dan penelitian saja, saya orang yang pertama menentang hal itu. Justru hal ini yang utama, bahwa data yang dihasilkan dari skripsi saya dikomparasikan dengan sejuta teori ilmiah mendapati kesamaan dalam data lapangan. Catatan terpentingnya, bahwa tidak ada hal yang mudah dalam kehidupan manusia. Berkata saja terkadang susah, apa hal yang muda dibenak kalian. Berfikir mudah itu hanya himbauan agar kita tidak terlalu terbelenggu dengan kejamnya dunia. Layaknya manusia normal, saya pun ingin ada pada posisi ini, telalu berfikir mendalam kadang susah diartikan oleh lawan bicara dan menjadi omongan belakang nantinya. Kadang berfikir terlalu mendasar bisa jadi bahan omongan orang pula, sebab sandangan akademik yang menjadi taruhannya. Jadi mampu beradaptasi saat berada dalam masyarakat inilah hal yang penting, melihat kebutuhan masyarakat, melihat apa yang ada dalam masyarakat dan melihat kondisi lingkungan sekitar. Benar petuah yang sempat terekam dalam pikiran saya “bermasyarakat itu lebih sulit merubahnya, daripada lingkungan sekolah dan perkuliahan yang jelas arah kurikulum dan tujuannya”. Hasil dari penelitian yang saya dapatkan membimbing saya untuk melihat masyarakat juga, sebab tidak jarang berfikir mereka sederhana, apa yang didapatkan itulah yang menjadi kerangka utamanya. Kadang saya heran, kenapa main mereka selalu dihadapkan pada problema ekonomi? Saya tanya tentang presepsi dan pendapat dari mereka, hampir rujukannya pada problema ekonomi, yang pada titik terang benang merahnya berpusat pada sebuah ketidakadilan. Fenomena ini yang membuat miris, kenapa kebudayaan yang terbentuk dalam tarian dijadikan ladang kehidupan. Pikiran masyarakat yang demikian kadang menghambat saya akan data yang didapatkan dilapangan. Lepas dari itu semua, saya lanjutkan bercerita tuntasnya skripsi saya di akhir bulan februari, dengan bimbingan dari Ibu Siti Awaliyah, S.Pd., M.Hum dan bimbingan dari bapak Drs. Suwarno Winarno. Tuntas sudah dan restupun dibuka, akhirnya saya memberanikan untuk memulai langkah selanjutnya yakni petanggungjawaban hasil karya ilmiah saya di hadapan pembimbing dan penguji nantinya. Tepat tanggal 16 maret 2015, saya sidang skripsi dengan penguji utama Dr. H. Moh. Yudi Batubara, S.H., M.H. Perjalanan sidangpun tidak berlangsung mulus dan lancar begitu saja, ijinkan saya berbagi curhatan pribadi saya. Ujian Tuhan tidak pada hasil dari skripsi saya, mengalami sakit total dalam waktu 3 minggu menyebabkan macet kegiatan dan aktivitas saya. Sakit yang pertama kalinya paling panjang selama di Perguruan Tinggi, saya ujian bukan hanya ujian skripsi akan tetapi ujian untuk sehat. Dari sinilah saya merenung dalam kamar yang busuk, betapa indah sehat itu, mimpi berada dalam ruang sepi dan terbakar api. Setelah terbangun, badan saya panas tak karuan. Sedih, Tuhan memberikan ujian apa lagi. Batuk dan pilek yang menggoda disertai panas yang tinggi membuat bangkit dan bangun dari tempat tidurpun serasa tak sudi. Ucap syukur, ada seseorang yang spesial selalu memberikan spirit dan ikhlas dalam membantu, sebut saja putih. Pada saat down seperti ini saya minta tolong tidak menolak, sebab kebanyakan anak muda sekarang minta tolong sangat susah, karena malas. Ucap terimakasih mendalam saya sampaikan dalam doa, semoga imbalan dan balasan atas pelakuan baikmu dijadikan catatan amalan sholeh kelak, jadi tabungan yang membimbingmu nanti.

Menjelang ujian, saya pun masih dalam kondisi badan yang masih kurang sehat. Pada saat hari senin, saya sidang skripsi. Semua berjalan sesuai rencanya, akan tetapi sial dalam perjalanan karena tidak ada pengalaman dan bertanya kepada teman yang pernah sidang skirpsi sehingga administrasi terbengkalai. Ucap syukur, Ibu Siti Awaliyah membantu saya untuk memoderatori dan menuliskan administrasi saya. Hormat saya ibu, saya haturkan tulus, sebaik manusia akan dibalas kebaikan. Selepas sidang saya sempat berfikir, bodohnya saya ini kenapa hal kecil masih belum bisa terurusi. Dalam sidang skripsi hakikatnya adalah kejujuran, sebab yang awal kali di bacakan adalah surat pernyataan keaslian tulisan. Hal ini memberitahukan kepada saya, bahwa skripsi itu boleh salah, tapi tidak boleh bohong. Kejujuran kunci utama dari skirpsi, sidang masalah pertanggungjawaban saja. Jalannya sidang skripsi berjalan dinamis, meskipun ada banyak pertanyaan yang dilontarkan dari dosen penguji akan tetapi semua berjalan dengan baik. Sempat menjadi kebingungan saya, yakni pertanyaan yang tiba-muncul persandingan antara lokal genius dengan lokal wisdom. Mohon maaf bapak Suwarno Winarno, mahasiswa anda masih dalam tahapan belajar, tapi hari ini saya sudah tau jawabanya, setidaknya mendasar walaupun tidak mendalam. Kearifan lokal itu hemat saya adalah pemikiran, idea dan gagasan masyarakat setempat tentang kebudayaan asli daerahnya. Apabila dipersandingkan dengan lokal genius maka semua kebudayaan yang ada di Indonesia tidak ada yang murni. Pengaruh dari kebudayaan luar besar kecilnya pasti ada pengaruhnya, budaya barat masuk dalam kebudayaan Indonesia. Unsur-unsur nilai asing akan diresap dan dijadikan rujuakan agar menjadi kebudayaan yang lebih baik lagi. Tidak ada kebudayaan dewasa ini tanpa adanya pengaruh, utamanya teknologi. Semua menggunakan bantuan teknologi, dan teknologi merupakan pengaruh dari kebudyaan luar. Jikalau kita dihadapkan dengan kebudayaan yang benar asli maka hal ini meutupi diri layaknya katak dalam tempurung; buta dan gelap sepanjang masa. Bagi saya kesenian ini tetaplah kesenian asli Kabupaten Probolinggo, banyak klaim-klaim dari daerah yang mengakui sebuah kesenian. berangkat dari pemikiran saya yang menjelaskan bahwa tidak ada kesenian tari Glipang dalam masyarakat madura, akan tetapi ada sebagian gerakan yang memang mengadobsi dari sebuah kebudayaan lokal disana. Tanpa dimunafikan, ada peralihan kebudayaan dari madura ke daerah pantura, sebab masyarakat madura yang migrasi keseluruh plosok negeri. Banyak orang bilang, mereka yang menyebar dan meninggalkan diri dari tanah madura adalah orang yang ekonomi sulit, sehingga migrasi ke tanah jawa untuk berdagang. Ini fakta yang saya dapatkan, dan hal itulah yang menjadikan salah satu dampak perubahan sosial dalam masyarakat. Hal ini tidak bisa dikatakan mampu merubah kearifan lokal masyarakat setempat, sebab yang namanya karakteristik dan kedarahan tetaplah punya identitas, meskipun kebudayaan hampir mirip dengan perilaku sehari-hari masyarakatanya. Sudah, pembahasan ilmiahnya sampai disini dulu, saya lanjutkna cerita saya untuk memperjuangkan sebuah toga.

Selesai sidang, saya mendapatkan hasil dari proses yang saya lakukan selama ini. Hasil memusakan dan sepadan dengan usaha dan tenaga yang dikorbankan. Mendapatkan jatah untuk merevisi selama 15 hari menjadi ketuntasan terakhir yang harus saya lakukan. Sebenarnya inti dari cerita yang mau saya sampaikan, selepas dari sidang yang sudah saya lakukan pada bulan Maret kemarin, sedangkan jangka waktu wisuda masih bulan September, dalam rentan waktu yang histeris saya harus apa? Apakah saya menjadikan jumlah sampah dalam masyarakat dengan gelar akademiknya? Diri yang sedang berusaha mencoba untuk selalu ikhlas dan berjuang terus. Selamat Pagi. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar