Kamis, 26 Februari 2015

Bahasa dan Strata Sosial Masyarakat Jawa

Ilustrasi
Kalau kita dihadapkan dengan istilah Bahasa, maka pikiran kita yang pertama kali adalah alat komunikasi, secara sederhana memang bisa diartikan sebagai alat komunikasi. Lebih dalam lagi bahasa  Ling sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (KBBI).

Kali ini saya akan sedikit membahas bahasa dalam hubungannya dengan stratas sosial masyarakat utamanya masyarakat jawa. Mencoba untuk menelaah lebih dalam lagi. Idea ini sebenarnya spontas saja, akan tetap untik juga untuk dibahas dan dipermasalahkan. Strata sosial yang sudah kita ketahui bersama ialah kondisi perbedaan kelas sosial dalam masyarakat, kelas sosial seperti kaum berdarah biru, borjuis, priyayi, dan tokoh masyarakat. biasanya pandangan kita kalau melihat kelas sosial terpatri akan hal-hal yang tinggi saja, padahal kelas sosial terbagi menjadi 3 kelas, yakni golongan atas, tengah dan bawah. Masyarakat Jawa utamanya Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mayoritansnya menggunkan bahasa jawa menjadikan saya ingin tahu kenapa ada tingkatan atau penggolongan bahasa yang digunakan saat berinteraksi.


Merujuk dari Wasito, 2012 pada halaman 98 yang menjelaskan Masyarakat Jawa adalah masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa Tengan dan Jawa Timur, serta mereka yang berasal dari kedua kota tersebut. Secara geografis, suku bangsa jawa mendiami jawa yang meliputi wilayah Kedu, Yogyakarta, Surakarta,Madiun, Malang, serta kediri dan sebagainya. Bahasa dalam masyarakat Jawa kita kenal ada tingkatanya, sehingga mirip dengan strata sosial atau kelas sosial. Pembedanya kalau bahasa digunakan sebagai alat komunikasi sedangkan kelas sosial jelas pada kondisi dan status sosial pada manusia dalam masyarakat. Bahasa Jawa yang saya ketahui itu ada Jawa Ngoko, Madya, dan Krama Inggil, sedikit membuat saya terkesan menjadi ada tingkatan.

Realita yang saya dapatkan dan kadang saya lakukan dalam berinteraksi memang benar adanya, saat berbicara dengan teman maka penggunaan bahasa ngoko lazim lebih baik, saat berbicara dengan orang tua menggunakan jawa Madya atau krama, dan saat berbicara dengan kaum priyayi dan guru menggunakan bahasa Krama Inggil. Jikalau memikirkan hal buruk maka bahasa menjadikan wilayah interaksi yang tak memungkinkan. Sebenarnya bahasa ini tidak menjadi msalah, secara nilai yang dapat dipetik dan simpulkan dalam bahasa berupa bentuk penghormatan dan menghargai antar mansia. Memang pada hakkatnya manusia sama, sama dalam haknya, sama dalam perwujudan menjalankan kewajiban, sama secara hakiki akan keilahian. Pembeda pada manusia karena dia telah dilahirkan kebumi dengan kondisi yang memungkinkan berada pada kelas-kelas sosial. Jadi ada sekat sosial antara kaum buruh dengan majikan? waw,,, Benarnya kita menyikapi fenomena ini sebagai gejala sosial yang terjadi dalam masyaakat, bahasa sebenarnya digunakan masyarakat jawa untuk penghargaan akan kebiasaan dan kebudayaan yang hidup didalamnya, sehingga pola tutur halus, lembut dan damai selalu diutamakan, meski bahasa Ngoko ndeso juga kerap kali ada dalam percakapan masyarakat Jawa. Bahasa sebagai hal yang unik dalam pembeda strata sosial dalam masyarakat, sepatutnya bisa kita ambil hikmahnya dalam hubungan interaksi. Saling menghormat, harga menghargai, patuh dan jumawa dalam hidup bermasyarakat. Strata sosial itu hanya pada klaim saja, budaya yang merupakan kearifan lokal dalam bentuk bahasa semestinya selalu kita usahakan menjadi hal yang terbaik. Jadikan pelajaran, jadikan hikmah, jadikan panduan dan pandangan untuk kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar